BERITA

  • LIBURAN MAULID, TETAP ISTIQOMAH TAHAJJUD

    LIBURAN MAULID, TETAP ISTIQOMAH TAHAJJUD

    HAFSHAWATY,Ribuan santri Pesantren Hafshawaty Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, mulai meninggalkan pesantren asuhan KH Moh Hasan Mutawakkil 'Alallah, itu sejak 18 sampai 27 Nopember 2018. Mereka pulang sementara untuk menikmati liburan bulan Maulid, Minggu (18/11/2018) pagi. Masa libur mondok telah tiba, waktunya bagi santri rehat sejenak pulang ke rumah. Meninggalkan pesantren tercinta berarti pula meninggalkan kegiatan didalamnya. Tak ada lagi peringatan ngaji, sorogan, musyawarah seperti biasanya. Di rumah, tinggallah kesadaran diri dalam bersikap dan berperilaku. Dewasa ini banyak santri yang salah paham. Pulang berarti bebas, bebas dari peraturan pesantren yang ketat setiap harinya. Bahkan ada juga santri yang terkadang tidak mencerminkan kehidupan pesantren yang sebenarnya. Padahal santri dituntut harus tetap bisa menjaga akhlaq dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. “Santri ketika pulang menjadi barometer. Tolak ukur bagaimana ia bisa menyerap pelajaran yang ada di pondok. Harus bisa menjaga akhlak dan sikap walau tidak berada di pondok,” ujar KH.Mutawakkil 'Alallah, Pengasuh Pondok Pesantren Hafshawaty Zainul Hasan Genggong Pajarakan Probolinggo. Kiai Mutawakkil menambahkan, santri tidak boleh seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya. Ketika keluar ia berprilaku bebas sebebas-bebasnya, bahkan lupa kembali ke sangkarnya kembali. Walaupun liburan santri harus tetap berprilaku baik dan tidak lupa mengaji serta tahajud. Selain itu, ia juga mengajak orang tua untuk menjaga anak-anaknya agar tidak meninggalkan shalat lima waktu dan juga mengingatkan agar anaknya tidak banyak pergi bermain, lebih baik di rumah membantu orang tua atau ikut memakmurkan masjid setempat."pungkasnya

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks