MENU

Menjelang Ujian Nasional, Ratusan Santri Hafshawaty Berziarah ke "Wali Lima"

Menjelang Ujian Nasional, Ratusan Santri Hafshawaty Berziarah ke

GENGGONG – Banyak cara dilakukan para siswa SMA sederajat di Kabupaten Probolinggo menjelang ujian Nasional tanggal 9-12 mendatang. Mulai dari Khotmil Quran, istighosah dan ziarah makam para waliyullah. Seperti dilakukan ratusan santri di bawah naungan Yayasan Hafshawaty Genggong.

Menjelang pelaksanaan Ujian Nasional, ratusan siswa dari dua lembaga tingkat SMA di bawah naungan Yayasan Hafsawaty Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, mengadakan ziarah bersama, Rabu-Kamis (04/04/2018).

Sebanyak empat bus pariwisata disiapkan untuk mengantarkan para asatidz dan siswa-siswi dari MA Model dan SMA Unggulan.

Empat bus itu, dipilah menjadi dua rombongan. Dua bus untuk siswa dan dua bus untuk siswi. Sesuai instruksi Kepala Pondok Hafshawaty Ning Hj. Hasanatut Daraini, dalam tiap bus berisi santri dan guru dari dua lembaga tersebut.

Sebelum berangkat, rombongan menggelar istighotsah di astah K.H. Moh. Hasan Genggong. Sekitar pukul 22.00 WIB,

Tak lupa ibu Nyai Hj. Muhibbatul Lubabah berpesan dan mengingatkan kepada para sopir supaya "jangan kebut-kebutan di jalan, pelan pelan saja, karena ini ziaroh bukan cari penumpang. "Ujar beliau. 

Lalu rombongan berangkat menuju lima makam para wali yang telah terjadwal sebagai berikut. Ziarah ke Sunan Bungkul, ziarah ke Raden Rahmatullah (Sunan Ampel) surabaya, ziarah ke Sunan Giri Gersik, ziarah ke Syekh Maulana Malik Ibrahim (Gersik), ziarah ke Raden Qosm (Sunan Drajat) lamungan, ziarah ke Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang).

Turut ikut serta dalam rombongan KH. Mutawakkil Alallah, Nyai Hj. Muhibbatul Lubabah, Ning Hj. Hasanatud Daraini, Neng Gevi, Gus iik, Neng Neli, Neng Nirma. 

Kiai mutawakkil menyusul rombongan ziarah menggunakan mobil pribadinya. Sesampainya di Sunan Bungkul kiai membuka dengan menceritakan sejarah singkat dari "Sunan Bungkul atau yang memiliki nama asli Ki Ageng Supo atau Mpu Supo beliau adalah seorang bangsawan dari jaman Kerajaan Majapahit yang setelah memeluk Islam, lalu ia menggunakan nama Ki Ageng Mahmuddin. Ia adalah salah satu penyebar agama Islam di akhir kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-15. Ia adalah mertua Sunan Ampelnamun ada versi lain yang mengatakan bahwa beliau adalah mertua Raden Paku atau yang lebih dikenal dengan Sunan Giri. Beliau diperkirakan hidup di masa Sunan Ampel pada 1400/1481 M. Ki Ageng Supa mempunyai puteri bernama Dewi Wardah. Makam beliau berada tepat di belakang Taman Bungkul Surabaya."ujar beliau. 

Ahmad Taufiq, S.Pd.I selaku panitia rombongan ziarah ini menilai, acara seperti ini sangat penting bagi santri. Terutama, bagi yang akan menghadapi ujian nasional mereka bisa mengambil berkah dan berdo'a serta bisa memetik banyak pelajaran dari kisah-kisah perjuangan para wali yang diziarahi.

Taufiq menambahkan, ziarah ini merupakan wisata religi yang akan selalu dikenang para santri saat sudah keluar dari pesantren. “Hal seperti ini yang akan mereka selalu ingat. Sehingga, mereka ingat identitas dirinya sebagai santri,” pungkasnya, saat ditemui di sela-sela minum kopinya di Tuban.

KOMENTAR