MENU

Kuatkan Pembelajaran SKS, Waka Kurikulum Ikuti Workshop di Surabaya

Kuatkan Pembelajaran SKS,  Waka Kurikulum Ikuti Workshop di Surabaya

Presentasi: Para nara sumber saat memberikan materi Workshop tentang Kurikulum SKS di Surabaya

 

SURABAYA-Prinsip madrasah sebagai lembaga pendidikan putra-putri umat yang mengedepankan pelayanan prima sesuai kemampuan dan kebutuhan peserta didik, salah satu pendekatan yang digunakan adalah melaksanakan pembelajaran system kredit semester (SKS). System ini adil bagi seluruh peserta didik, sebab memungkinkan pembelajar cepat untuk menyelesaikan pendidikan tingkat menengah kurang dari tiga tahun. Sebaliknya, bagi pembelajar sedang dan lambat, mereka bisa menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun atau lebih.

MA Model Zainul Hasan yang tahun ini merupakan tahun ketiga penggunaan SKS, senantiasa melakukan pengembangan kurikulum. Di antaranya dengan mendelegasikan WakaKurikulum, Ust Agus Supriyanto, M.Pd.I pada Workshop Pengembangan Kurikulum SKS di Kementerian Agama, Surabaya (22 – 25 Nopember 2017). Ikut serta dalam workshop ini, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan, Ust Hubbul Watan, S.Pd.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Drs. H. Syamsul Bahri, M.Pd.I. Beliau sangat apresiasi dan bangga terhadap peserta workshop yang reladatang dari seluruh daerah se-Jawa Timur. “Ini mengindikasikan bahwa Bapak/Ibu semua adalah guru unggul. Dan ini yang akan menjadikan madrasah lebih cemerlang lagi di masa depan. Sebab, siswa unggul hanya akan bisa diwujudkan oleh guru unggul. Di antara keunggulan guru adalah keikhlasan mendidik dan pengembangan diri” sambut sosok humanis yang baru menjabat sembilan bulan tersebut.

Banyak ilmu yang didapat dalam workshop ini. Pertama, regulasi dan implementasi pendidikan madrasah yang disampaikan oleh Drs. H. Laksono, M.Pd, kabid Mapenda Kemenag Jatim. Diulas dan didiskusikan banyak hal terkait rencana dan pelaksanaan anggaran dan kegiatan madrasah. Anggaran harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pengembangan rohani dan jasmani madrasah.

Kedua, konsep, prinsip, dan pengembangan modul pembelajaran aktif yang disampaikan oleh Drs. Hadi Suwono, M.Pd., dosen Universitas Negeri Malang (UM). Bagi sekolah penyelenggara pembelajaran SKS, mutlak dalam Kegiatan Belajar Mengajar-nya menggunakan pembelajaran aktif. Sebab, hanya pola inilah yang mampu memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang heterogen dalam kategori fast, middle, and low learner. Ketiga, komponen dan perangkat Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM), disampaikan oleh Prof. Dr. H. Arif Hidayat, M.Si., guru besar Universitas Negeri Malang (UM). “Tiap siswa, pada hakikatnya adalah makhluk penuh potensi kebaikan; kecerdasan, kemampuan, kedewasaan, dan kemandirian. Tugas guru-lah untuk memfasilitasi. Maka, UKBM ini-lah kunci untuk menjamin pelayanan klasikal dan individual masing-masing siswa tersebut” papar sang professor.

Ust Agus menyampaikan bahwa akan ada tindak lanjut di tingkat marasah. “Kita sudah susun dan laksanakan UKBM 1, nanti masing-masing guru akan menyampaikan hasil UKBM 1-nya untuk kemudian kita kaji kebelum-tepatannya, terutama dalam penyusunan dan evaluasi  kegiatan belajar berorientasi high order thinking skill (HOTS) serta active learning-nya. Setelah semua selesai, baru kita lanjut ke workshop UKBM 2 dan seterusnya”, sampaian Wakakur. (suga-tam)

KOMENTAR