MENU

Sejarah

Pengembangan Madrasah Model oleh Departemen Agama melalui proyek JSEP (Junior Secondary Education Project) pada tahun 1993 dan proyek DMAP (Development of Madrasah Aliyah Project) pada tahun 1998, dirasakan sebagai suatu hal yang sangat penting. Madrasah model diharapkan dapat menjadi pemicu dan serta pemercepat terjadinya perubahan – perubahan yang signifikan terhadap eksistensi, kualitas dan kinerja madrasah pada umumnya. Madrasah Model mempunyai karakteristik khusus yang tidak dimiliki oleh madrasah konvensional. Karakteristik tersebut adalah populis, islamis dan berkualitas, yang berfungsi sebagai madrasah inti, pusat sumber belajar dan pusat pemberdayaan masyarakat. Dengan pendekatan historis-filosofis, artikel ini memberikan informasi singkat tentang filosofi Madrasah Model.

          Jika mendengar kata “madrasah”seringkali gambaran yang muncul dalam benak dan pikiran kita hanya terbatas pada sosok bangunan sekolah yang tidak terawatt dan reyot, tempat bagi mereka (para siswa) dari kalangan menengah kebawah baik secara intelektual maupun ekonomi. Gambaran lain tentang madrasah paling banter adalah tempat pilihan terakhir untuk melanjutkan pendidikan bagi mereka yang tidak diterima di sekolah-sekolah favotir karena NEM-nya yang tidak mencukupi, atau karena orang tua mereka tidak mampu memenuhi persyaratan administrasi yang diajukan pihak sekolah seperti: uang sekolah, sumbangan BP3, atau uang gedung yang biasanya relative lebih mahal, atau persyaratan-persyaratan lainnya. Bukan salah siapa-siapa, jika memang demikian image atau persepsi yang telah begitu lama tertanam di kepala setiap orang. Juga bukan salah madrasah, baik itu madrasah negri maupun swasta jika gambaran yang sangat sederhana dan bersahaja (jika tidak mau dikatakan jelek) itu muncul.

          Pengembangan Madrasah Model dirasakan sebagai suatu hal yang penting. Madrasah model diharapkan dapat menjadi pemicu dan serta pemercepat terjadinya perubahan-perubahan yang signifikan terhadap eksistensi, kualitas dan kinerja madrasah pada umumnya. Dengan adanya lebel “model”, idealnya madrasah yang bersangkutan memiliki berbagai macam kelebihan yang belum tentu dapat ditemui pada madrasah lain. Kelebihan itu antara lain mencakup aspek akademik, manajemen, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia. Bila kesemua aspek tersebut telah tercakup dan berlangsung pada madrasah model, maka tidaklah berlebihan jika madrasah tersebut memiliki posisi dan kedudukan yang setara dengan sekolah-sekolah unggulan pada sekolah umum.

            Madrasah Model sebagai salah satu agen perubahan, khususnya dalam dunia pendidikan Islam tidak dapat dipersalahkan, malah sepatutnya memperoleh dukungan berbagai pihak, apalagi jika upaya ini nantinya dievaluasi dan dinilai berhasil. Imbas yang ditebarkan tidak hanya akan terasa pada nadrasah yang menjadi model saja, tetapi juga diharapkan secara lebih luas memberikan dampak yang positif dan konstruktif bagi madrasah lain. Dalam kondisi demikian, diharapkan madrasah-madrasah non model akan tergugah dan terpacu untuk ikut maju dan berkembaang serta mengikuti apa yang telah ditampilkan oleh madrasah model. Dengan begitu, sebuah madrasah model akan berperan sebagai pelopor dalam merangsang terjadinya perubahan, dan berpartisipasi aktif dalam mengambil leading position dalam mengangkat penampilan dan kinerja madrasah lainnya.

HALAMAN LAINNYA

KOMENTAR