MENU

MA Model Utus 10 Siswi Ke Forum Bahtsul Masail Pondok Pesantren Nurul Qodim Paiton.

MA Model Utus 10 Siswi Ke Forum Bahtsul Masail Pondok Pesantren Nurul Qodim Paiton.

BAHTSUL MASAIL: Siswa MA Model Zainul Hasan Genggong Di Tengah-tengah Pembukaan Forum Bahtsul Masail Di Ponpes Nurul Qodim Paiton.


GENGGONG - Madrasah Aliyah Model Zainul Hasan Genggong utus َ10 siswi pilihan berangkat ke Pesantren Nurul Qadim Paiton Probolinggo untuk mengikuti bahtsul masail tingkat Pesantren se-Jawa-Madura pada Rabu 28 Sgt 2019 kemarin.

MA Model Zainul Hasan Genggong yang menjadi perwakilan dari Pesantren Genggong ini akan berbaur dengan Pesantren Lirboyo, Pesantren Sidogiri, Pesantren Langitan, Pesantren Pacul Gowang, Pesantren Al-Anwar, Pesantren Buntet Cirebon, Pesantren Sukorejo-Situbondo, Pesantren Bata-Bata Pamekasan, Pesantren Kaliwungu, Pesantren Ploso, Pesantren Pesantren Nurul Kholil Bangkalan, dan lain-lain dari berbagai pesantren salaf se-Jawa Madura. 

Sebanyak 10 Siswi MA Model cendikiawan yang mengikuti bahtsul masail adalah Isy karimah kelas X IAI, Jasila kelas X IAI, Syamila ainunisa kelas XI IPA, Adinda Febriani kelas XI IPA, Jafria Vinori kelas XI IPA, Laili mamluatul kelas PDCI, Falia Azizah kelas XII IPA A, Rifqo annisa kelas XII IPA A, Halimatus sa'diah kelas XII IPA A, Aisyah Rehab kelas XII IPA A.   

Ustad Bahruddin Zaini, M.Pd.I selaku PKM Kesiswaan mengutarakan,“Kegiatan bahtsul masail ini akan memberikan manfaat besar dalam kehidupan kita, yaitu sebagai benteng santri agar terhindar dari berbagai tantangan dan budaya-budaya yang tidak baik, dan saat ini semakin terlihat berbagai dampak negatif yang ditimbulkan. Budaya-budaya ini akan mampu menghilangkan kearifan lokal yang telah menjadi kebanggaan bagi kita semua, terutama dalam hal karakter atau akhlak sebagai santri."ujar ust Bahruddin.

Sementara itu Kepala sekolah MA Model Zainul Hasan (MAM) Genggong Ahmad Muzammil, M.Pd.I berpesan kepada peserta bahtsul masail agar dalam melakukan pembacaan terhadap kitab kuning disesuaikan dengan kondisi zaman yang ada. Hal tersebut disampaikan pada saat memberikan motivasi kepada siswi MA Model sehari sebelum mereka berangkat.

Sebab menurut Ust. Muzammil, ruh kitab kuning yang usiannya lama mungkin masih relevan, tetapi bunyi teksnya tidak senantiasa bisa diterapkan untuk kondisi-kondisi seperti saat ini yang telah mengalami perubahan.

"Oleh karena itu menjadi tugas peserta bahtsul masail, ahli-ahli, pembaca-pembaca dan perenung-perenung di dalam kitab kuning ini untuk mengkontekstualisasikan," kata ust. Muzammil.

Hal tersebut ia kemukakan supaya menghasilkan jawaban yang bisa dirasakan kepentingan banyak pihak dan bukan kelompok sendiri. "Karena kepentingan yang diterima umum itu harus lebih didahulukan daripada kepentingan yang bersifat kelompok," pesan beliau kepada siswinya sebagai nasehat. (rfq)

KOMENTAR